Tampilkan postingan dengan label Kitabul Faraidh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kitabul Faraidh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 April 2014

BAB XX ‘Umra


بَابُ الْعُمْرَى
‘Umro: adalah pemberian kepada Orang lain untuk dimiliki seumur hidup orang yang diberi.
١٦٢٥- حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى. قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِالرَّحْمٰنِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِاللهِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ (أَيُّمَا رَجُلٍ أُعْمِرَ عُمْرَى لَهُ وَلِعَقِبِهِ، فَإِنَّهَا لِلَّذِيْ أُعْطِيَهَا. لَا تَرْجِعُ إِلَى الَّذِي أَعْطَاهَا. لِأَنَّهُ أَعْطَى عَطَاءً وَقَعَتْ فِيْهِ الْمَوَارِيْثُ). رواه مسلم فى كتاب الهبات
Artinya: Nabi SAW bersabda: Siapapun laki-laki yang diberi sesuatu secara ‘Umro, maka ‘Umro tersebut untuknya dan anak turunnya, setatus ‘Umro adalah milik orang yang diberi. ‘Umro tidak dapat kembali kepada Orang yang memberi. Karena orang itu memberi pada sesuatu pemberian, yang jatuh (berlaku) hukum warist pada pemberian tersebut. HR Muslim fi Kitabil Hibat
١٦٢٥- حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ (وَاللَّفْظُ لِعَبْدٍ). قَالَا: أَخْبَرَنَا عَبْدُالرَّزَّاقِ. أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ جَابِرٍ. قَالَ إِنَّمَا الْعُمْرَى الَّتِي أَجَازَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ أَنْ يَقُوْلَ: هِيَ لَكَ وَلِعَقِبِكَ. فَأَمَّا إِذَا قَالَ: هِيَ لَكَ مَا عِشْتَ، فَإِنَّهَا تَرْجِعُ إِلَى صَاحِبِهَا قَالَ مَعْمَرٌ: وَكَانَ الزُّهْرِيُّ يُفْتِي بِهِ. رواه مسلم فى كتاب الهبات
Artinya: Abu Salamah berkata: Sesungguhnya Nabi SAW Meneruskan hukum ‘Umro (pengertian asli ‘Umro adalah hanya sebatas untuk yang diberi. Setelah yang diberi mati, Umro kembali pada yang memberi). Seorang pemberi ‘Umro hendaknya berkata:  ‘Umro ini untuk mu dan untuk anak turun mu. Ketika seseorang berkata: Umro ini hanya selama hidup kamu, maka Umro tersebut dapat kembali kepada Orang yang memberi. Ma’mar berkata: Zuhri juga mempunyai pituah yang serupa tentang hadist ini.
Menurut ulama’ yang meriwayatkan hadist diatas, bahwa Hukum ‘Umro tergantung ‘Akadnya. Di riwayat lain dijelaskan, walaupun bagai manapun ‘Akadnya, Nabi tetap menghukumi ‘Umro untuk Orang yang diberi (dan untuk diwarist), tidak dapat kembali kepada orang yang memberi (Sumber: Bukhari no 2482 atau Pada Hadist-hadist dibawah ini).
Untuk ke Mashlahatan, Para ‘Ulama’ sepakat: walau bagaimanapun ‘Akadnya, ‘Umro tidak dapat kembali kepada Orang yang memberi.
١٦٢٥- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ. حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِالرَّحْمٰنِ، عَنْ جَابِرٍ (وَهُوَ ابْنُ عَبْدِاللهِ) أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ قَضَى فِيْمَنْ أُعْمِرَ عُمْرَى لَهُ وَلِعَقِبِهِ، فَهِيَ لَهُ بَتْلَةً. لَا يَجُوْزُ لِلْمُعْطِي فِيْهَا شَرْطٌا وَلَا  ثُنْيَا قَالَ أَبُو سَلَمَةَ: لِأَنَّهُ أَعْطَى عَطَاءً وَقَعَتْ فِيْهِ الْمَوَارِيْثُ. فَقَطَعَتِ الْمَوَارِيْثُ شَرْطَهُ. رواه مسلم فى كتاب الهبات
Artinya: Sesungguhnya Nabi SAW menghukumi seseorang yang mendapat pemberian secara ‘Umro, bahwa ‘Umro tersebut untuknya dan untuk anak turunnya (dapat diwarist). Umro Hukumnya Terus (dimiliki seterusnya/ tidak dapat kembali kepada Orang yang memberi). Seseorang jika ingin memberi sesuatu, tidak boleh memberi syarat dan pengecualian (contoh: ini untukmu, syaratnya kamu menerima lamaran saya). Karena ketika seseorang memberi pada sesuatu pemberian, maka jatuh (berlaku) hukum warist pada pemberian tersebut. Dan sesuatu yang sudah kejatuhan Hukum Waris, Semua Syarat yang pernah terjadi itu Batal. HR Muslim fi Kitabil Hibat
Contoh: “saya kasih motor, syaratnya jangan kamu pakai kebut-kebutan”. Jika akad nya seperti itu, motor hukumnya shah untuk yang menerima, namun syaratnya batal, karena jatuh hukum warist dimotor tersebut. Adapun jika yang diberi memakai motor dengan tidak kebut-kebutan, itu lebih baik, sebagai tanda menghargai/ menghormati kepada orang yang telah memberi.
١٦٢٥- وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ وَإِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُوْرٍ (وَاللَّفْظُ لِابْنِ رَافِعٍ). قَالَا: حَدَّثَنَا عَبْدُالرَّزَّاقِ. أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ. أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ، قَالَ أَعْمَرَتِ امْرَأَةٌ بِالْمَدِيْنَةِ حَائِطًا لَهَا ابْنًا لَهَا. ثُمَّ تُوُفِّىَ، وَتُوُفِّيَتْ بَعْدَهُ، وَتَرَكَتْ وَلَدًا، وَلَهُ إِخْوَةٌ بَنُوْنَ لِلْمُعْمِرَةِ. فَقَالَ وَلَدُ الْمُعْمِرَةِ: رَجَعَ الْحَائِطُ إِلَيْنَا. وَقَالَ بَنُو الْمُعْمَرِ: بَلْ كَانَ لِأَبِيْنَا حَيَاتَهُ وَمَوْتَهُ. فَاخْتَصَمُوا إِلَى طَارِقٍ مَوْلَى عُثْمَانَ. فَدَعَا جَابِرً فَشَهِدَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ ﷺ بِالْعُمْرَى لِصَاحِبِهَا. فَقَضَى بِذٰلِكَ طَارِقٌ. ثُمَّ كَتَبَ إِلَى عَبْدِالْمَلِكِ فَأَخْبَرَهُ ذٰلِكَ. وَأَخْبَرَهُ بِشَهَادَةِ جَابِرٍ. فَقَالَ عَبْدُالْمَلِكِ: صَدَقَ جَابِرٌ. فَأَمْضَى ذٰلِكَ طَارِقٌ. فَإِنَّ ذٰلِكَ الْحَائِطَ لِبَنِي الْمُعْمَرِ حَتَّى الْيَوْمِ. رواه مسلم فى كتاب الهبات
Artinya: Jabir berkata: ada seorang Wanita yang memberi ‘Umro berupa kebun, kepada Anak Laki-lakinya. Singkat cerita Anak Laki-laki tersebut meninggal (orang yang diberi ‘Umro), setelah itu Wanita itu juga meninggal (Orang yang memberi ‘Umro). Wanita tersebut memiliki Anak (Anak lain, yang masih Hidup), dan Anak Laki-laki tersebut memiliki beberapa saudara, yaitu anaknya wanita yang memberi ‘Umro tersebut. Kebun tersebut menjadi rebutan antara Anaknya Wanita yang memberi ‘Umro, dan Anaknya Anak Laki-laki yang diberi ‘Umro. Anaknya Wanita yang memberi ‘Umro berkata: Kebun ini adalah Waristan untuk kami, karena kebun ini adalah ‘Umro dari Ibu kami. Anaknya Anak Laki-laki yang diberi ‘Umro berkata: Kebun ini adalah Milik Bapak Kami di hidup dan matinya (menjadi waristan untuk kami). Perebutan itu menjadikan pertengkeran, yang sampai pada Thariq, oleh Thariq Hukumnya ditanyakan kepada Jabir. Jabir bersaksi, bahwa Nabi SAW menghukumi ‘Umro untuk Ahli Waristnya Orang yang diberi ‘Umro. Maka Thariq memakai Hukumnya Jabir tersebut. Oleh Thariq kejadian tersebut dilaporkan kepada Abdil Malik (Amirul Mu’min saat itu) melalui Surat. Yang isinya surat, tentang persaksian Jabir. Maka Abdul Malik menjawab: Jabir benar dalam menghukumi. Kemudian Thariq menghukumi Kebun tersebut untuk Anak-anaknya Orang yang diberi ‘Umro sampai saat ini (‘Umro tidak berhenti sebab kematiannya Orang yang diberi ‘Umro). HR Muslim fi Kitabil Hibat
١٦٢٥- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ. حَدَّثَنَا شُعْبَةُ. قَالَ: سَمِعْتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِاللهِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ (الْعُمْرَى جَائِزَةٌ). رواه مسلم فى كتاب الهبات
Artinya: Nabi SAW brsabda: “Umro itu boleh” maksutnya Shah dan Terus, untuk diwaristkan kepada Ahli Waristnya Orang yang diberi ‘Umro. HR Muslim fi Kitabil Hibat
١٦٢٥- حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَبِيْبٍ الْحَارِثِيُّ. حَدَّثَنَا خَالِدٌ (يَعْنِي ابْنَ الْحَارِثِ). حَدَّثَنَا سَعِيْدٌ عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ جَابِرٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ (الْعُمْرَى مِيْرَاثٌ لِأَهْلِهَا). رواه مسلم فى كتاب الهبات
Artinya: Nabi SAW Bersabda: ‘Umro itu menjadi Warisannya Ahli Warist yang diberi Umro. HR Muslim fi Kitabil Hibat
١٣٥١- حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيْعٍ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ دَاوُدَ بْنِ أَبِي هِنْدٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ الْعُمْرَى جَائِزَةٌ لِأَهْلِهَا وَالرُّقْبَى جَائِزَةٌ لِأَهْلِهَا.
قَالَ أَبُو عِيْسَى هَذَا حَدِيْثٌ حَسَنٌ وَقَدْ رَوَى بَعْضُهُمْ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ بِهٰذَا الْإِسْنَادِ عَنْ جَابِرٍ مَوْقُوْفًا وَلَمْ يَرْفَعْهُ وَالْعَمَلُ عَلَى هٰذَا عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ
ﷺ وَغَيْرِهِمْ أَنَّ الرُّقْبَى جَائِزَةٌ مِثْلَ الْعُمْرَى وَهُوَ قَوْلُ أَحْمَدَ وَ إِسْحَقَ وَفَرَّقَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَهْلِ الْكُوْفَةِ وَغَيْرِهِمْ بَيْنَ الْعُمْرَى وَالرُّقْبَى فَأَجَازُوا الْعُمْرَى وَلَمْ يُجِيْزُوا الرُّقْبَى.
قَالَ أَبُو عِيْسَى وَتَفْسِيْرُ الرُّقْبَى أَنْ يَقُوْلَ هٰذَا الشَّيْءُ لَكَ مَا عِشْتَ فَإِنْ مُتَّ قَبْلِي فَهِيَ رَاجِعَةٌ إِلَيَّ وَقَالَ أَحْمَدُ وَ إِسْحَقُ الرُّقْبَى مِثْلُ الْعُمْرَى وَهِيَ لِمَنْ أُعْطِيَهَا وَلَا تَرْجِعُ إِلَى الْأَوَّلِ.
رواه الترمذى فى كتاب الأحكام. الألباني: صحيح
Artinya: Nabi SAW brsabda: “Umro itu boleh” maksutnya Shah (untuk yang diberi) dan Terus (untuk ahli warist), untuk diwaristkan kepada Ahli Waristnya Orang yang diberi ‘Umro, begitu juga Ruqba.
Abu ‘Isa (Imam Tirmidzi) berkata: Hadist ini Hasan. karena Para Ahli Ilmu meriwayatkannya dari  Abu Zubair dengan isnad yang berhenti pada Jabir. dan Jabir tidak memarfu’kan Hadist ini. (harusnya Hadist ini Dhaif) Namun kebanyakan Ahli Ilmu dari kalangan Shahabat dan Selainnya Shahabat, banyak yang mengamalkan seperti Hadist ini, yaitu Umro seperti Ruqba, terus/ untuk diwaris (tidak kembali pada orang yang memberi) sehingganya Hadist ini menjadi Hasan. Ucapannya Ahmad (gurunya Abu ‘Isa) dan Ishaq: Sebagian Ahli Ilmu dari penduduk Kufah dan selain Penduduk Kufah, itu membedakan antara ‘Umro dan Ruqba. Yaitu Umro terus untuk Ahli Warist, sedangkan Ruqba Tidak Terus Untuk Ahli Warist (kembali kepada yang memberi). Ini hanya perselisihan Ahli Ilmu, Untuk ke Mashlahatan Hukum Ruqba tetap Terus/ menjadi Warisannya Orang yang diberi Ruqba (sumber: hadist di atas).
Abu ‘Isa menafsirkan Arti Ruqba: ini pemberian seumur hidup mu, dengan ‘aqad jika kamu mati lebih dulu, maka pemberian tersebut kembali padaku, dan jika aku mati lebih dulu, maka pemberian tersebut tetap untukmu. Ucapannya Ahmad (gurunya Abu ‘Isa) dan Ishaq: Ruqba itu seperti ‘Umro, tetap untuk yang diberi, tidak dapat kembali pada yang memberi. HR At-Tirmidzi fi Kitabil Ahkam
٦٥٣٧- أَخْبَرَنَا هِلَالُ بْنُ الْعَلَاءِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبِيْ قَالَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ وَهُوَ بْنُ عَمْرٍو عَنْ سُفْيَانَ عَنِ بْنِ أَبِي نَجِيْحٍ عَنْ طَاوُسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِثٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ الرُّقْبَى جَائِزَةٌ. رواه النسائى فى كتاب الرقبى
Artinya: Nabi SAW brsabda: “Ruqba itu boleh” maksutnya Shah dan Terus, untuk diwaristkan kepada Ahli Waristnya Orang yang diberi Ruqba. HR An-Nasai fi Kitabir Ruqba

٦٥٤١- أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُوْ مُعَاوِيَةَ عَنْ حَجَّاجٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ طَاوُسٍ عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ الْعُمْرَى جَائِزَةٌ لِمَنْ أُعْمِرَهَا وَالرُّقْبَى جَائِزَةٌ لِمَنْ أُرْقِبَهَا وَالْعَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالْعَائِدِ فِي قَيْئِهِ. رواه النسائى فى كتاب الرقبى
Artinya: Nabi SAW bersabda: ‘Umro itu Shah untuk Orang yang diberi ‘Umro (tidak dapat kembali kepada yang memberi ‘Umro), dan Ruqba itu Shah untuk Orang yang diberi Ruqba (tidak dapat kembali kepada yang memberi Ruqba). Siapa saja yang meminta kembali pada pemberiannya, itu seperti orang yang menjilat muntahnya (Hukum nya Harom). HR An-Nasai fi Kitabir Ruqba
٦٥٤٥- أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ قَالَ أَنْبَأَنَا حِبَّانُ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ عَنْ حَنْظَلَةَ أَنَّهُ سَمِعَ طَاوُسًا يَقُوْلُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ لَا تَحِلُّ الرُّقْبَى فَمَنْ أُرْقِبَ رُقْبَى فَهُوَ سَبِيْلُ مِيْرَاثِ. رواه النسائى فى كتاب الرقبى
Artinya: Nabi SAW bersabda: Ruqba itu tidak halal (Ruqba yang bersyarat, contoh: Ruqba ini pemberian seumur hidup mu, jika kamu mati lebih dulu, maka pemberian tersebut kembali padaku, dan jika aku mati lebih dulu, maka pemberian tersebut tetap untukmu), maka siapa saja yang mendapat Ruqba, Ruqba tersebut menjadi jalannya Warist (untuk diwaristkan kepada Ahli Waristnya Orang yang diberi Ruqba). HR An-Nasai fi Kitabir Ruqba
٦٥٦١- أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ أَنْبَأَنَا عُبَيْدُ اللهِ عَنْ إِسْرَائِيْلَ عَنْ عَبْدِ الْكَرِيْمِ عَنْ عَطَاءٍ قَالَ نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ﷺ عَنِ الْعُمْرَى وَالرُّقْبَى قُلْتُ وَمَا الرُّقْبَى قَالَ يَقُوْلُ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ هِيَ لَكَ حَيَاتَكَ فَإِنْ فَعَلْتُمْ فَهُوَ جَائِزَةٌ. رواه النسائى فى كتاب الرقبى
Artinya: ‘Atha’ berkata: Nabi SAW melarang ‘Umro dan Ruqba. Aku (Abdul Karim) bertnya: Ruqba itu apa...?. ‘Atha’ menjawab: yaitu ada Seorang Laki-laki berkata kepada Laki-laki lain-lain: Pemberian ini hanya seumur hidup mu. Walaupun begitu akadnya, Umro dan Ruqba itu boleh, maksutnya Shah dan Terus, untuk diwaristkan kepada Ahli Waristnya Orang yang diberi ‘Umro dan Ruqba. HR An-Nasai fi Kitabir Ruqba
Hikmahnya: Sebelum memberikan seseuatu kepada seseorang, baik Hibah/ ‘Athiyah/ ‘Umro/ Ruqba, Supaya difikir-fikir terlebih dahulu, karena pemberian tersebut tidak dapat kembali kepada Orang yang memberi.

Jumat, 11 April 2014

BAB XIX Penjelasan ‘Umro & Ruqba


بَابُ مَا قِيْلَ فِي الْعُمْرَى وَالرُّقْبَى

أَعْمَرْتُهُ الدَّارَ فَهِيَ عُمْرَى، جَعَلْتُهَا لَهُ اسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا جَعَلَكُمْ عُمَّارًا
“Aku berikan Rumah ini Seumur Hidup”, maka Rumah itu adalah ‘Umro “yang aku jadikan untuk orang itu”. Dicontohkan dalam surat Hud 61 “Allah menjadikan kalian pemakmur didalam bumi” maksutnya Allah menjadikan kalian sebagai ‘Ummaron/ orang yang meramut bumi.
‘Umro: adalah pemberian kepada Orang lain untuk dimiliki seumur hidup orang yang diberi.
Ruqba: adalah pemberian kepada Orang lain berupa rumah atau tanah seumur hidup orang yang diberi, dengan ‘aqad jika yang diberi mati lebih dulu, maka pemberian tersebut kembali dimiliki oleh yang memberi, dan jika yang memberi mati lebih dulu, maka pemberian tersebut tetap dimiliki oleh yang diberi.
٢٤٨٢- حَدَّثَنَا أَبُوْ نُعَيْمٍ: حَدَّثَنَا شَيْبَانُ، عَنْ يَحْيَى، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَضَى النَّبِيُّ ﷺ بِالْعُمْرَى، أَنَّهَا لِمَنْ وُهِبَتْ لَهُ. رواه البخارى فى كتاب الهبة
Artinya: Jabir RA berkata: Nabi SAW menghukumi ‘Umro untuk Orang yang diberi ‘Umro (tidak dapat kembali pada Orang yang memberi. Walaupun yang diberi sudah mati, dan untuk diwaristkan kepada Ahli Waristnya Orang yang diberi ‘Umro). HR Bukhari fi Kitabil Hibah
٢٤٨٣-  حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ: حَدَّثَنَا هَمَّامٌ: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ قَالَ: حَدَّثَنِي النَّضْرُ بْنُ أَنَسٍ، عَنْ بَشِيْرِ بْنِ نَهِيْكٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (الْعُمْرَى جَائِزَةٌ). وَقَالَ عَطَاءٌ حَدَّثَنِي جَابِرٌ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: نَحْوَهُ. رواه البخارى فى كتاب الهبة
Artinya: Nabi SAW bersabda: “Umro itu boleh” maksutnya Shah dan Terus, untuk diwaristkan kepada Ahli Waristnya Orang yang diberi ‘Umro. HR Bukhari fi Kitabil Hibah
Allah telah memberikan dunia ini sebagai tempat tinggal, bukan sebagai orang yang memiliki. Manusia ketika memberikan sesuatu dengan niat ‘Umro (sebagai peramut) itu hukumnya terus/ dapat diwarist, dan tidak dapat kembali kepada Orang yang memberi.
Pemberian secara ‘Umro ini sangat jarang terjadi di Indonesia, namun di Negara Arab ‘Umro menjadi sebuah tradisi.

BAB XVIII Hibah


بَابُ الْهِبَةِ
Hibah: adalah pemberian kepada Orang lain tampa meminta imbalan, dan yang ditujukan untuk menambah rasa cinta dan kasih sayang (umumnya berupa sesuatu yang istimewa/ berharga/ permanen).
١٦٢٣- حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ. حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ الْعَوَّامِ عَنْ حُصَيْنِ، عَنِ الشَّعْبِيِّ. قَالَ: سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيْرٍ. ح وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى (وَاللَّفْظُ لَهُ). أَخْبَرَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ حُصَيْنٍ عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ. قَالَ: تَصَدَّقَ عَلَيَّ أَبِي بِبِعْضِ مَالِهِ. فَقَالَتْ أُمِّي عَمْرَةُ بِنْتُ رَوَاحَةَ: لَا أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ فَانْطَلَقَ أَبِيْ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ لِيُشْهِدَهُ عَلَى صَدَقَتِيْ. فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ (أَفَعَلْتَ بِوَلَدِكَ هَذَا كُلِّهِمْ؟) قَالَ: لَا. قَالَ (اتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا فِي أَوْلَادِكُمْ). فَرَجَعَ أَبِي. فَرَدَّ تِلْكَ الصَّدَقَةَ. رواه مسلم فى كتاب الهبات
Artinya: Nu’man berkata: Bapak ku (Basyir) menghibahkan separuh harta miliknya untuk ku. Lalu Ibuku ‘Amroh berkata pada Bapakku: Saya tidak ridho pada kelakuanmu, memberikan separuh harta mu kepada Nu’man saja (karena masih ada anak lain selain Nu’man). Saya bisa ridho, jika kamu mempersaksikan shadaqoh tersebut kepada Nabi (dan Nabi mensetujuinya). Maka bapakku berangkat meminta persaksian Nabi SAW atas hibahnya untuk ku. Maka Nabi SAW bersabda: “Apakah kamu menghibahi harta tersebut untuk semua anakmu...?” bapak berkata: Tidak. Nabi meneruskan sabdanya: “takutlah pada Allah dan berbuat ‘Adillah untuk semua anak-anak mu”. Maka setelah Bapak ku pulang, dia menerik kembali hibahnya. HR Muslim fi Kitabil Hibat
Penjelasan Hadist diatas diterangkan pada hadist dibawah ini.
حدثني النعمان بن بشير أن أمه بنت رواحة سألت أباه بعض الموهوبة من مال لابنها. فالتوى بها سنة. ثم بدا له. فقالت: لا أرضى حتى تشهد رسول الله ﷺ على ما وهبت لابني. فأخذ أبي بيدي. وأنا يومئذ غلام. فأتى رسول الله ﷺ فقال: يا رسول الله! إن أم هذا، بنت رواحة، أعجبها أن أشهدك على الذي وهبت لابنها. فقال رسول الله ﷺ (يا بشير! ألك ولد سوى هذا؟) قال: نعم. فقال (أكلهم وهبت لهم مثل هذا؟) قال: لا. قال (فلا تشهدني إذا. فإني لا أشهد على جور) رواه مسلم فى كتاب الهبات
Artinya: Sesungguhnya ibu nya Nu’man meminta kepada bapak ku, untuk menangguhkan pemberian Hibah nya untuk diriku (dalam suatu riwayat dijelaskan bahwa hibahnya Basyir kepada Nu’man adalah Budak), namun Bapak ku tidak memperdulikan permohonan Ibuku, dan tetap menghibahkan Budak tersebut untuk ku. Kejadian ini berlangsung selama satu tahun, sehingga ibuku mengeluarkan perkataan: Aku Tidak Ridho dengan penghibahan mu terhadab Nu’man, sehingga Nabi mau mempersaksikannya. Lalu bapakku memegang tanganku, dan berangkat menuju rumah Nabi. Saat itu saya masih Muda. Lalu Nabi bertanya: Wahai Basyir, Apakah masih ada anakmu selain anak ini (selain Nu’man)..? bapak menjawab: ia Nabi (masih ada anak yang lain), Nabi meneruskan pertanyaannya: Apakah semua anakmu engkau Hibahkan sama seperti anak ini..? bapak menjawab: tidak (hanya nu’man yang diberi hibah), lalu Nabi Bersabda: kalau begitu saya tidak mau menjadi saksi perbuatan ini, karena aku tidak mau menjadi saksi perbuatan yang menyimpang. HR Muslim fi Kitabil Hibat
‘Athiyah*: adalah pemberian kepada Orang lain (Pemberian Biasa/ bukan berupa sesuatu yang istimewa/ berharga/ permanen) , tampa mengharap balasan.
Hikmah:
1.      Hibah harus adil untuk semua anak.
2.      Menarik pemberian dari Orang tua ke anaknya itu boleh.
١١٧٨٣- وَأَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ الْمُقْرِيُّ أَنْبَأَ الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ ثَنَا يُوْسُفُ بْنُ يَعْقُوْبَ ثَنَا أَبُو الرَّبِيْعِ ثَنَا جَرِيْرُ بْنُ عَبْدِ الْحَمِيْدِ عَنْ مُغِيْرَةَ عَنِ الشَّعْبِيِّ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيْرٍ فَذَكَرَ الْقِصَّةَ بِطُوْلِهَا قَالَ فِي آخِرِهَا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فَإِنِّي لَا اَشْهَدُ عَلَى هَذَا هَذَا جَوْرٌ أَشْهِدْ عَلَى هَذَا غَيْرِي، اعْدِلُوْا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ فِي النَّحْلِ كَمَا تُحِبُّوْنَ أَنْ يَعْدِلُوْا بَيْنَكُمْ فِي الْبِرِّ وَاللَّطَفِ. رواه البيهقى فى كتاب الهبات
Artinya: Sya’bi berkata: aku mendengar qishahnya yang panjang dari Nu’man, dan ending qishah tersebut: Sesungguhnya Nabi Bersabda: Aku tidak mau mempersaksikan perbuatan ini (hibahnya Orang Tua untuk salah seorang anaknya saja), karna perbuatan ini nyimpang. Carilah saksi selainku. Berlaku ‘adillah kepada setiap anakmu, dalam urusan Hibah (namun jika hanya sebatas ‘Athiyyah* boleh tidak ‘adil, tergantung kebutuhan anak, contoh: anak yang masih kecil diberi permen cukup, dan anak yang sudah dewasa diberi uang baru cukup). Sebagaimana kalian senang, jikalau anak-anak kalian berlaku adil terhadab kalian orang tua, dalam urusan kebaikan dan kasih sayang. HR Baihaqi fi Kitabil Hibat
Hikmah: Seorang Juru Hukum jangan mau mempersaksikan sesuatu perbuatan yang menyimpang, walaupun diberi Hadiah.
١١٧٨٠- أَخْبَرَنَا أَبُو حَازِمٍ الْحَافِظُ وَأَبُو نَصْرٍ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيْزِ بْنِ عُمَرَ بْنِ قَتَادَةَ قَالَا أَنْبَأَ أَبُو الْفَضْلِ بْنو خَمِيْرُوَيْهِ ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ نَجْدَةَ ثَنَا سَعِيْدُ بْنُ مَنْصُوْرٍ ثَنَا إِسْمَاعِيْلُ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ يُوْسُفَ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيْرٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ سَوُّوْا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ فِي الْعَطِيَّةِ فَلَوْ كُنْتُ مُفَضِّلًا أَحَدًا لَفَضَّلْتُ النِّسَاءَ. رواه البيهقى فى كتاب الهبات
Artinya: Nabi SAW Bersabda: Samakan lah pemberian Hibah kalian terhadab semua Anak kalian (lafat Athiyah pada hadist, bermakna Hibah). Seandainya aku boleh memberi lebih banyak kepada seseorang mengalahkan orang lain, maka niscaya aku akan memberi lebih kepada anak perempuan. HR Baihaqi fi Kitabil Hibat
Hikmah:
1.      Hibah harus sama untuk setiap Anak.
2.      ‘Athiyah boleh berbeda (tergantung kebutuhan), untuk setiap Anak.
3.      Walaupun keingin Nabi seperti tersebut diatas, hukum aslinya: Anak Laki-laki lebih unggul dari pada Anak Perempuan, untuk menerima Waristan.
٣٥٣٩ـ حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، ثَنَا يَزِيْدُ يَعْنِي ابْنَ زُرَيْعٍ ثَنَا حُسَيْنٌ الْمُعَلِّمُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ طَاوُسٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ وَابْنِ عَبَّاسٍ،عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "لَايَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يُعْطِيَ عَطِيَّةً أَوْ يَهَبَ هِبَةً فَيَرْجِعَ فِيهَا، إِلَّا الْوَالِدَ فِيْمَا يُعْطِي وَلَدَهُ، وَمَثَلُ الَّذِيْ يُعْطِي الْعَطِيَّةَ، ثُمَّ يَرْجِعُ فِيْهَا كَمَثَلِ الْكَلْبِ يَأْكُلُ فَإِذَا شَبِعَ قَاءَ، ثُمَّ عَادَ فِي قَيْئِهِ". رواه أبو داود فى كتاب البيوع
Artinya: Nabi SAW bersabda: “Tidak halal seseorang menarik kembali Hibah atau ‘Athiyah yang telah ia shadaqahi, terkecuali Pemberian Orang tua terhadab Anak-anaknya (Orang Tua Boleh menarik pemberian Apapun yang pernah diberikan kepada anak-anaknya). Gambaran seseorang yang menarik Hibah atau ‘Athiyahnya kembali seperti Anjing yng muntah karena kekenyangan, kemudian Anjing tersebut memakan kembali Muntahnya. HR Abu Dawud fi Kitabil Buyu’