Kamis, 03 April 2014

BAB V Seorang Muslim Tidak Dapat Saling Mewaris Dengan Orang Kafir, & Seorang Yang Masuk Islam Ketika Waristan Hendak Dibagi, Tetap Tidak Mendapat Waristan


.لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلَا الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ وَ إِذَا أَسْلَمَ قَبْلَ أَنْ يُقْسَمَ الْمِيْرَاثُ فَلَا مِيْرَاثَ لَهُ
حَدَّثَنَا أَبُوِ عَاصِمْ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ عُثْمَانَ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلَا الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ. رواه البخارى فى كتاب الفرائض
Artinya: Nabi SAW Bersabda: Orang Iman & Orang Kafir tidak dapat saling mewaris. HR Bukhari fi Kitabil faraidh
Ini termasuk مَوَنِعُ الْإِرْثِ/ Beberapa Pencegah Watistan, ada 3:
1.      إِخْتِلَفُ الدِّيْن/ Perbedaan Aqidah,
2.      الْقَتْلُ/ Karena Pembunuhan, &
3.      الرِّقُّ/ Karena Jadi Budak, Budak tidak bisa mewaris (mendapat waristan) dari keluarganya, dan hartanya budak tidak dapat di waristkan kepada keluarganya. Adapun status hartanya budak ketika dia meninggal, adalah milik majikannya.
Kesimpulan: seorang budak tidak dapat mewarist(mendapat warisan), namun hartanya bisa diwarist (kepada majikannya).
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْن السَّرْحِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ ابْنُ وَهْبٍ أَنْبَأَنَا يُوْنُسُ  عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ عَمْرَو بْنَ عُثْمَانَ أَخْبَرَهُ عَنْ عُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَتَنْزِلُ فِيْ دَارِكَ بِمَكَّةَ قَالَ وَهَلْ تَرَكَ لَنَا عَقِيْلٌ مِنْ رِبَاعٍ أَوْ دُوْرٍ وَكَانَ عَقِيْلٌ وَرِثَ أَبَا طَالِبٍ هُوَ وَطَالِبٌ وَلَمْ يَرِثْ جَعْفَرٌ وَلَا عَلِيٌّ شَيْئًا لِأَنَّهُمَا كَانَا مُسْلِمَيْنِ وَكَانَ عَقِيْلٌ وَطَالِبٌ كَافِرَيْنِ فَكَانَ عُمَرُ مِنْ أجْلِ ذٰلِكَ يَقُوْلُ لَايَرِثُ الْمُؤْمِنُ الْكَافِرَ قَالَ أُسَامَةُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلَا الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ. رواه ابن ماجة فى كتاب الفرائض
Artinya: Ketika Nabi hendak ke Mekkah Usamah bertanya: Wahai Rarulullah apakah Engkau nanti sesampainya di Mekkah akan bermukim (nginab) di rumahmu...? (yang dimaksut Usamah adalah rumahnya Abu Thalib). (Sebagai penjelasan: Rumahnya Abu Thalib sudah dihuni Nabi sejak kecil, sehingganya Usamah Bertanya seakan-akan rumahnya Abu thalib adalah rumahnya Nabi) (saat itu abu thalib telah meninggal dunia). Lalu Nabi menjawab: Apakah ‘Aqil (anaknya Abu Thalib) menyerahkan rumahnya pada ku..? ketahuilah Abu Thalib telah mewariskan rumahnya untuk ‘Aqil & thalib. Ja’far & ‘Ali saja tidak dapat waristan rumah tersebut (Sebagai Penjelasan: Anaknya Abu Thalib ada 4, yaitu: Thalib, ‘Aqil, Ja’far, & ‘Ali), dikarenakan mereka berdua adalah Orang Islam, sedangkan Thalib & ‘Aqil adalah Orang Kafir. (Setelah Aqil Mendapat Warisan Rumah Abu Thalib, Oleh ‘Aqil rumah tersebut dijual, sehingga Tidak ada tempat Muqim Lagi bagi Nabi di rumah tersebut). Karna Kejadian tersebut, Umar Bin Khatab berkata: Orang Iman & Orang Kafir tidak dapat saling mewarist (Abu Thalib adalah Orang Kafir). Usamah melanjutkan Ceritanya: Nabi bersabda: Orang Islam & Orang Kafir tidak dapat saling mewarist. HR Ibni Majah fi Kitabil Faraidh
Penjelasan: Yang dimaksut Orang Kafir tidak bisa mewariskan hartanya kepada Orang Islam adalah: tidak berlaku hukum warist yang telah Allah tentukan dalam Al-Quran. Namun jika tetap mendapat Waristan, supaya diterima. Jika tidak mendapat Waristan, supaya bersabar.

BAB IV Waristannya Wala’


بَابُ مِيْرَاثِ الْوَلَاءِ
Wala’ adalah: Budak yang merdeka, sebab dimerdekakan.
.
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرٍ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ فَذَكَرْتُ لَهُ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ اشْتَرِي وَأَعْتِقِي فَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ، ثُمَّ قَامَ النَّبِيُّ ﷺ مِنَ الْعَشِيِّ، فَأَثْنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ، ثُمَّ قَالَ: مَا بَالُ أُنَاسٍ يَشْتَرِطُوْنَ شُرُوْطًا لَيْسَ فِيْ كِتَابِ اللهِ، مَنِ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللهِ فَهُوَ بَاطِلٌ وَإِنِ الشْتَرَطَ مِائَةَ شَرْطٍ شَرْطُ اللهِ أَحَقُّ وَأَوْثَقُ. رواه البخاري فى كتاب البيوع
Artinya: ‘Aisyah berkata: Nabi datang kepadaku, lalu Aku menceritakan sesuatu kepada Nabi (1). Lalu Nabi SAW Bersabda: “Wahai ‘Aisyah... Beli dan Merdekakanlah pada budak tersebut. Sesunggguhnya waristannya Wala’ untuk orang yang memerdekakan”. Kemudian Nabi SAW berdiri, untuk Nashihat diwaktu Sore. Lantas Nabi Bersabda kepada Para Shahabat: “Mengapa Kebanyakan Manusia, membuat syarat tampa dasar dalil Al-Qu’an. Ketahuilah Syarat apapun yang tidak sesuai dalil Al-Qur’an maka hukumnya Batal (Tidak Shah). Meskipun Manusia membuat 100 Syarat, tentang suatu Hukum, tetap Syaratnya Allahlah yang lebih benar dan lebih quat”. HR Bukhari fi Kitabil Buyu’
(1)Ada seorang Budak bernama bariroh yang ingin merdeka dengan cara mencicil, kemudian majikannya menentukan harga dari kemerdekaan budak tersebut. Harga budak tersebut adalah 9 ‘Auq (1 ‘Auq = 4 Dinar). Harga tersebut dapat Ia cicil selama 9 Tahun. Lalu ‘Aisyah ingin membeli budak Barirah tersebut, kemudian lansung dimerdekakan. Namun sebelum si Majikan menjual Barirah kepada ‘Aisyah, Dia memberi sebuah Syarat yang isinya: Jika Bariroh meninggal, maka Waristan Wala’nya untuk Saya Majikan.
Hikmahnya:
1.      Seorang Wala’ yang mati tampa meninggalkan Ahli Warist, maka Waristannya untuk Orang yang memerdekakan. Walaupun yang memerdekakan adalah seorang Perempuan (Mu’thiqah), dan walaupun tidak memiliki hubungan Nashab (contoh antara ‘Aisyah dan Barirah, yang tidak memiliki hubungan Nasab).
2.      Ada 3 sebab seseorang bisa mendapatkan waristan (Ashbabul Irsti), Pertama: Karena memerdekakan (Mu’thiq/ Mu’thiqah), Kedua: Karena pernikahan (Zauj/ Zaujah), Ketiga: Karena Nasab (Ashlul Warist/ Far’ul Warist/ Saudara).
حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ بْنِ الْأَصْبَهَانِيِّ عَنْ مُجَاهِدِ بْنِ وَرْدَانِ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ مَوْلًى لِلنَّبِيِّ ﷺ وَقَعَ مِنْ نَخْلَةٍ فَمَاتَ وَتَرَكَ مَالًا وَلَمْ يَتْرُكْ وَلَدًا وَلَا حَمِيمًا فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ أَعْطُوْا مِيْرَاثَهُ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ قَرْيَتِهِ. رواه ابن ماجة فى كتاب الفرائض
Artinya: Suatu ketika, Bekas Budaknya Nabi SAW (budak yang telah dimerdekakan Nabi) jatuh dari kendaraan, kemudian mati meninggal harta, namun tidak memiliki anak dan famili (tidak ada ahli warist). Lalu Nabi memerintahkan untuk membagi harta Wala’ tersebut kepada Orang-orang yang sekampung dengan Bekas Budak tersebut. HR. Bukhari fi Kitabil Faroidh
Dalam Hadist pertama yang di Riwayatkan oleh Urwah Bin Zubair, dijelaskan bahwa: Harta Wala’ Maulan/ Bekas Budak, jika tidak ada Ahli Warist maka untuk yang memerdekakan.
Pada Hadist diatas, walaupun yang memerdekakan Nabi, namun Nabi tidak mengambil harta wala’ tersebut, karena Para Nabi Tidak di warist atau mewarist Dinar & Dirham.
...وَإِنّ الْأَنْبِيَاءِ لَمْ يُوَرِّثُ دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَمًا... رواه أبو داود صحيح  Sesungguhnya Para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham
Hikmahnya: Jika Maulan meninggal tampa Ahli Warist, maka harta wala’nya untuk Mu’tiqo/ Orang Memerdekakannya. Kecuali yang memerdekakan Nabi, maka harta wala’nya Bukan untuk Mu’tiqo (bukan untuk Nabi).
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنِ الْحَكَمِ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ شَدَّادٍ عَنْ بِنْتِ حَمْزَةَ، {قَالَ مُحَمَّدٌ يَعْنِى ابْنَ أَبِى لَيْلَى: وَهِيَ أُخْتُ ابْنِ شَدَّادٍ لِأُمِّهِ} قَالَتْ مَاتَ مَوْلَايَ وَتَرَكَ ابْنَةً فَقَسَمَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ مَالَهُ بَيْنِي وَبَيْنَ ابْنَتِهِ فَجَعَلَ لِيَ النِّصْفَ وَلَهَا النِّصْفَ. رواه ابن ماجة فى كتاب الفرائض
Artinya: Binti Hamzah bercerita: Bekas Budak yang telah ia merdekakan mati, meninggalkan 1 Anak Perempuan sebagai Ahli Warist tunggal. Maka Nabi membagi Harta Peninggalannya Maulan menjadi dua, sebagian untuk saya, sebagiannya lagi untuk 1 anak perempuannya.
Sebagai penjelasan: 1/2 bagian untuk 1 anak perempuan, merupakan ketentuan Allah dalam Al-Qur’an (Wa in kanat wahidatan, falaha Nisfu = Jika seseorang hanya mempunyai satu anak perempuan, maka bagiannya setengah). 1/2 bagian untuk Binti Hamzah merupakan haqnya sebagai Mu’tiqotun (Orang yang memerdekakan).
Dari semua hadist pada kiriman ini, dapat disimpulkan 3 Syarat Warist (Syurutul Irsti)
1.      Jelas Kematiannya Seseorang,
2.      Jelas Hidupnya Ahli Warist, &
3.      Memiliki Ilmu Membagi Waristan.